partnership

ICE Institute Jajaki Kerja Sama Strategis dengan Yayasan Pendidikan Adiluhung Nusantara untuk Pengembangan Kompetensi Pekerja Migran Indonesia

📅 25 May 2026 👁 40 views ✍ radianti
ICE Institute Jajaki Kerja Sama Strategis dengan Yayasan Pendidikan Adiluhung Nusantara untuk Pengembangan Kompetensi Pekerja Migran Indonesia

Info Artikel

Kategori: partnership

Bahasa: id

Dilihat: 40


Bagikan

Yogyakarta, 20 Mei 2026 – ICE Institute melakukan kunjungan dan pertemuan dengan Yayasan Pendidikan Adiluhung Nusantara di Yogyakarta guna membahas peluang kerja sama dalam pengembangan kompetensi dan pendidikan berkelanjutan bagi pekerja migran Indonesia. Pertemuan ini menjadi langkah awal dalam membangun kolaborasi yang berfokus pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui program pelatihan, pembekalan kewirausahaan, serta akses pendidikan yang lebih luas bagi pekerja migran.

 

Pertemuan yang dihadiri oleh perwakilan Yayasan Pendidikan Adiluhung Nusantara dan tim ICE Institute tersebut membahas berbagai potensi kerja sama, khususnya melalui program beasiswa dan pelatihan yang dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi pekerja migran Indonesia. Dalam diskusi, disampaikan bahwa pengembangan program dapat dilakukan melalui berbagai produk pelatihan dan pembelajaran yang tidak hanya membekali peserta dengan pengalaman kerja, tetapi juga kemampuan untuk memanfaatkan modal, pengalaman, dan kompetensi yang diperoleh selama bekerja di luar negeri sebagai peluang usaha ketika kembali ke Indonesia.

 

Program ini diharapkan mampu memberikan dampak nyata dalam kurun waktu dua hingga tiga tahun, bahkan lebih cepat, melalui peningkatan kompetensi dan kesiapan peserta dalam membangun kemandirian ekonomi. Selain itu, inisiatif tersebut dinilai sebagai peluang strategis dalam mendukung pengembangan program pengiriman beasiswa Indonesia yang berorientasi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia.

 

Dalam pembahasan, Yayasan Pendidikan Adiluhung Nusantara juga memaparkan sejumlah tantangan yang masih dihadapi oleh pekerja migran Indonesia. Salah satunya adalah rendahnya kemampuan pengelolaan keuangan, yang menyebabkan pendapatan yang diperoleh belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan pelatihan mengenai perencanaan keuangan, pengelolaan tabungan, investasi, serta pemanfaatan modal usaha secara produktif.

 

Selain itu, pekerja migran juga menghadapi berbagai tekanan dalam dunia kerja, mulai dari tuntutan pekerjaan, proses adaptasi lingkungan, hingga stres kerja. Oleh karena itu, diperlukan pembekalan terkait manajemen stres, peningkatan kemampuan komunikasi, serta pemahaman mengenai hak dan kewajiban tenaga kerja agar mereka dapat menjalankan pekerjaan dengan lebih baik dan menjaga kesehatan mental selama bekerja.

 

Aspek lain yang menjadi perhatian adalah literasi kekeluargaan. Penguatan pemahaman mengenai pengelolaan kehidupan keluarga dinilai penting untuk mendukung ketahanan keluarga pekerja migran. Pelatihan mengenai komunikasi keluarga, pengelolaan ekonomi rumah tangga, serta pembangunan hubungan keluarga yang sehat menjadi salah satu solusi yang diusulkan dalam program kerja sama ini.

 

Sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan kompetensi pekerja migran, ICE Institute menawarkan sejumlah materi pembelajaran yang dapat diakses melalui platform digitalnya. Materi tersebut meliputi Manajemen Bisnis, yang mencakup perencanaan usaha, pengelolaan operasional, pemasaran, dan pengelolaan keuangan usaha, serta Entrepreneurship atau Kewirausahaan di Indonesia, yang berfokus pada pengembangan jiwa kewirausahaan, identifikasi peluang usaha, penyusunan rencana bisnis, hingga pengembangan usaha berbasis pengalaman dan modal yang dimiliki peserta setelah kembali ke tanah air.

 

Melalui program tersebut, pekerja migran diharapkan memiliki bekal yang memadai untuk membangun usaha secara mandiri dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi di daerah asal masing-masing setelah masa kerja berakhir. Dalam kesempatan yang sama, ICE Institute juga menyampaikan harapannya untuk menjadi jembatan antara pekerja migran dan pemerintah dalam mendukung pengembangan kompetensi serta pendidikan sepanjang hayat. Salah satu gagasan yang dikembangkan adalah mekanisme pengumpulan satuan kredit semester (SKS) melalui program pembelajaran yang diikuti selama bekerja. SKS tersebut nantinya dapat dikonversikan ke perguruan tinggi di Indonesia sehingga pengalaman belajar yang diperoleh pekerja migran memiliki pengakuan akademik dan dapat digunakan untuk melanjutkan pendidikan formal.

 

Sebagai tindak lanjut, ICE Institute menjelaskan bahwa peserta yang ingin memperoleh gelar akademik dapat melanjutkan studi secara daring melalui program Universitas Terbuka. Sementara itu, bagi peserta yang lebih membutuhkan peningkatan kompetensi profesional atau pelatihan keterampilan tertentu, ICE Institute siap memfasilitasi melalui berbagai program pembelajaran yang tersedia di platformnya.

 

Selain itu, apabila Yayasan Pendidikan Adiluhung Nusantara memiliki materi atau program pelatihan yang relevan untuk pengembangan kompetensi pekerja migran, materi tersebut berpeluang untuk diintegrasikan ke dalam platform ICE Institute sehingga dapat diakses oleh peserta secara lebih luas. ICE Institute juga menyatakan kesiapan untuk memfasilitasi komunikasi lanjutan dengan pihak Universitas Terbuka, termasuk koordinasi dengan Wakil Rektor Bidang Kerja Sama UT Yogyakarta guna mendukung implementasi program yang direncanakan.

 

Dari hasil pertemuan tersebut, kedua pihak menyepakati tiga fokus utama yang akan ditindaklanjuti dalam kerja sama ke depan, yaitu penyelenggaraan pelatihan khusus bagi pekerja migran Indonesia, program pembekalan bagi pekerja migran yang akan kembali ke Indonesia, serta persiapan melanjutkan pendidikan melalui mekanisme konversi SKS ke perguruan tinggi.

Melalui kolaborasi ini, ICE Institute dan Yayasan Pendidikan Adiluhung Nusantara berharap dapat menghadirkan ekosistem pembelajaran yang mendukung peningkatan kompetensi, kemandirian ekonomi, dan akses pendidikan yang lebih luas bagi pekerja migran Indonesia, sehingga mereka dapat memperoleh manfaat yang berkelanjutan baik selama bekerja maupun setelah kembali ke tanah air.